Minggu, 18 Januari 2009

Yogyakarta City Of LOve


Telah 12 tahun aku hidup dikota tersebut,banyak hal yang telah ku lalui selama masa tersebut. Perubahan dinamika kota juga turut mempengaruhi gerak langkahku sehari-hari,tapi tidak untuk kecintaanku terhadap kota ini.banyak perubahan yang terjadi dari perubahan sosio kultural maupun perubahan ekonomi perupa pertumbuhan pusat-pusat ekonomi baru, seperti tumbuhnya hypermarket2 besar dikota ini,banyaknya kafe-kafe yang tiap malam hampir dipenuhi oleh berbagai slogan-slogan untuk menarik minat pengunjungnya. ambigu memang disatu sisi tempatku kuliah dulu selalu mengedepankan ekonomi yang berbasis kerakyatan, dengan berbagai petuah ekonomi yang selalu mengatakan bahwa rakyat yang harus selalu dikedepankan. Tapi sekarang apa yang terjadi, ekonomi kapitalis dah merambah kota ini. Pusat perbelanjaan selalu ramai oleh pengunjung,tanpa memperhitungkan jarak antara satu hypermarket dengan hypermarket lainnya.seolah tidak ada regulasi untuk mengaturnya,tetapi biarlah toh pasti akan terjadi segmentasi konsumen pada akhirnya.ke mal cuma nongkrong aja sambil cuci mata,tetapi belanja tetap di mirota kampus atau toko dekat rumah. Semua seakan masih berjalan dengan normal,gudeg masih laris,MC D tetap ramai, seolah memberikan ritme ekonomi yang berimbang antara ekonomi kapitalis dan ekonomi berbasis UKM.

Harapan Yogya sebagai kota modern dalam artian kota yang dapat menerima berbagai perkembangan jaman tetapi tetap mampu menjalankan tradisi sebagai bagian budaya itulah yang terpenting dikemudian hari. Banyak pertanyaan yang ada dikepalaku tentang kota ini, masih adakah tata krama dalam pergaulan sehari hari 10 tahun mendatang bagi anak Yogya?karena untuk berbicara kromo aj dalam bahasa jawa,anak SD sekarang kesulitan untuk mengaplikasikannya.haruskah hanya dengan pelajaran disekolah aj mereka di ajarkan?siapakah penerus prajurit kraton dalam acara tradisi yang diadakan oleh kraton Yogya?seiring oleh perbaikan ekonomi makin banyak mobil yang ada di kota ini,masih mampukah jalan yang ada di Yogya menampung?ataukah akan macet seperti di Jakarta 10 tahun mendatang?belum lagi pertumbuhan jumlah sepeda motor yang ada dikota ini.belum lagi banyaknya kaum urban(pendatang dari kota lain yang selalu bertambah tiap tahun,penulis juga termasuk didalamnya) yang semakin membebani kota ini.

Kalau penulis lihat perubahan Yogya kan seperti Jakarta dalam artian kedepannya daerah sekitarnya akan menjadi penyangga bagi pertumbuhan ekonomi kota Yogya. Tumbuhnya perumahan disekitar jalan bantul,wonosari dan wates menunjukkan indikasi tersebut,sehingga banyak juga komuter yang tiap pagi berangkat ke Kota Yogya baru pada Sore hari sepulang kerja mereka pulang kerumahnya yang ada disekitar luar ring road. Walaupun belum separah di Jakarta. Belum lagi kesemrawutan lalu lintas jalan dengan banyaknya kendaraan bermotor beroperasi belum termasuk becak,andong dan sepeda.

Sebutan Kota Yogya sebagai kota pendidikan mulai pudar seiring dengan tingginya biaya untuk kuliah ditambah lagi pertumbuhan tempat kuliah dikota-kota kecil sehingga menjadikan enggan bagi calon mahasiswa baru untuk datang ke Yogya. Belum lagi masalah masalah lain seperti free seks,narkoba dan lain-lain menjadikan ortu calon mahasiswa jadi bimbang untuk menyekolahkan anaknya. Kalau dulu mahasiswa kost berarti pemilik kost ikut tanggung jawab dalam mengawasi atau menjadikan mereka sebagai bagian keluarganya, sekarang hal tersebut dah mulai berubah, pemilik kost hanya menerima setoran tiap bulan tanpa memperhitungkan kewajibanya sebagai orang tua asuh.

Dari semua permasalahan diatas yang jadi pertanyaan bagi saya adalah apa yang dapat kita lakukan untuk kota ini?hanya berdiam diri melihat semua berlangsung seperti apa adanya?dari blog ini saya ingin mengajak rekan2 untuk memberikan masukan tentang kota Yogya ini untuk menuju yogya yang lebih baik dikemudian hari.

Pamit dulu ya,wis ngantuk je,Wassalam

Tidak ada komentar: